Muak dengan Agama
Tinggal di negara Indonesia dengan Pancasilanya ternyata membuat saya sangat muak. Apalagi setelah membaca dan merenungkan sila Pertama. Cuuihh… bisa-bisanya saja pemerintah menentukan jumlah tuhan itu ada berapa. Atas dasar apa mereka tahu kalau tuhan itu benar-benar satu saja. Apa tuhan sendiri yang berbicara kepada mereka? Bisakah kitab suci dijadikan sumber yang benar-benar obyektif? Ada banyak agama di dunia ini, dan beberapa di antaranya memiliki tuhan lebih dari satu.
Akibat lain dari sila Pertama ini adalah pemaksaan pemilikan agama. Kalau memang mereka tidak bisa percaya kenapa harus dipaksakan. Saya rasa dan semua orang tahu tuhan tidak pernah memaksakan manusia untuk percaya kepadanya. Kenapa sekarang manusia yang memegang peranan tuhan?
Jika memang agama bisa menjadi panutan/moral, kenapa pada kenyataannya orang yang beragama lebih bertindak brutal? Lebih baikkah mereka dengan yang tidak beragama? Jika perbuataan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan selama ini, terbuktikan kalau agama gagal membentuk manusia yang beradab.
Sedikit demi sedikit, saya mulai meninggalkan identitas agama saya. Bukan berarti saya akan sepenuhnya menjadi ateis. Bukan, tetapi lebih baik agama itu saya simpan dalam-dalam di dalam diri saya. Tidak perlu saya tunjukkan. Jikapun ada yang menanyakan, lebih baik saya tersenyum, itu akan mengajarkan orang-orang di sekeliling saya untuk mulai berhenti melihat identitas orang dari agamanya. Biarkan semua orang baik melakukan perbuatan baiknya tanpa harus menonjolkan sisi religiusnya.
Let’s make this world worth living…
Lam kenal niy,
Tadi habis lihat komen di blog-ku jadi pingin tahu, hehehe…
Contoh yang ada disekitar kita memang bisa membuat omongan para penganjur agama menjadi bullshit, namun saya tetap yakin ada banyak penganjur agama yang konsisten pada apa yang dia sampaikan.
Mungkin ada baiknya kita berlibur dari kota besra, mungkin bisa melihat dan memahami ada ruang untuk agama yang tetap konsisten.
BTW, namanya juga demokrasi, mau pilih yang mana ya silakan, kembali pada pilihan masing-masing. Baik bagi saya belum tentu baik bagi orang lain.
Masim "Vavai" Sugianto
Januari 12, 2007 at 10:05 am
SETUJU!!!
aRdho
Januari 21, 2007 at 6:18 am
Kamu setuju sama Ronsen apa sama saya Dho ?
vavai
Januari 29, 2007 at 11:55 am
sebaiknya jangan menyembunyikan identitas agama… tuan ronsen sebaiknya jadi ateis saja.. toh punya agama juga gak ibadah secara total.. di akhirat cuma ada dua .. neraka dan syurga .. kalo gak ke syurga ya ke neraka… gak mungkin di tengah-tengah.. kalo gak percaya syurga dan neraka… your heaven just in ur dream … jadilah atheis sejati… saya dukung itu bro
juhanda
April 10, 2007 at 11:55 am
#4
yang penting kan gua gak jualan agama, bro.
Ronsen
April 10, 2007 at 6:04 pm
[...] baiknya sebelum menghakimi saya baca ini dulu [...]
Sebuah Penantian « Ronsen’s Blog
Desember 12, 2007 at 6:50 pm
sebaiknya jangan menyembunyikan identitas agama… tuan ronsen sebaiknya jadi ateis saja.. toh punya agama juga gak ibadah secara total.. di akhirat cuma ada dua .. neraka dan syurga .. kalo gak ke syurga ya ke neraka… gak mungkin di tengah-tengah.. kalo gak percaya syurga dan neraka… your heaven just in ur dream … jadilah atheis sejati… saya dukung itu bro
soal penyembunyian identitas agama itu merupakan sepenuhnya hak mas ronsen…
soal surga dan neraka, saya percaya, bahwa hanya Yang Punyalah yang lebih tahu, dan mau ditempatkan dimana kita nanti, ya terserah Yang Punya, toh kita ini juga punya Nya…
salam
idiotz
Desember 14, 2007 at 12:29 pm
ya jadi ateis aja atau mati aja ya kan malah bagus
yag buat pancasila aja dah mati
ngapain membahas pancasila
kita bahas aja moral bangsa yang jauh dari kata normal
black
Desember 15, 2007 at 10:51 am
“Jika memang agama bisa menjadi panutan/moral, kenapa pada kenyataannya orang yang beragama lebih bertindak brutal? Lebih baikkah mereka dengan yang tidak beragama? Jika perbuataan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan selama ini, terbuktikan kalau agama gagal membentuk manusia yang beradab”
Benarkah???
semoga kita lebih banyak membaca, merenung, meneliti kembali sejarah.
semoga…
amuharhamdi
Desember 15, 2007 at 11:50 am
“Atas dasar apa mereka tahu kalau Tuhan itu benar-benar satu saja. Apa tuhan sendiri yang berbicara kepada mereka?Bisakah kitab suci dijadikan sumber yang benar-benar obyektif? ”
hmmm..Tuhanku gak pernah berbicara langsung dgnku,tapi kitab suciku menulisnya…aku yakin ma kitabku karena isi dari kitabku memyakinkanku akan kebenaran isinya…oleh karena itu aku yakin ma Tuhanku.
saya rasa kitab suci akan menjadi obyektif ketika kita tahu kebenaran isinya
Salah satu bukti kebenaran kitab kami:
“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak,maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kmu dustakan??” Ar Rahmaan 37-38
http://www.pesanharunyahya.com/news/latest/big-bang-ledakkan-yang-menghancurkan-paham-materialisme-(1)-347-302.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Big_Bang
http://www.kompas.com/teknologi/news/0405/12/153203.htm
http://www.harunyahya.com/indo/artikel/073.htm
http://hubblesite.org/
nabiku telah menjelaskan theory ini sebelum beliau wafat,,,,dulu…dulu sekali sebelum edwin hubble menemukan theory ini,dulu sebelum pakar dunia mengerti. Dan aku bersyukur karena telah dituliskan dan ku baca dalam kitabku.
benar kata amuharhamdi……
klo skrg kmu mulai meninggalkan identitas dirimu,ada baiknya kmu mulai membaca referensiku
“Jika perbuataan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan selama ini, terbuktikan kalau agama gagal membentuk manusia yang beradab”
agama telah mengajarkan apa yang benar dan apa yang salah,tinggal manusianya mau gak belajar dengan benar????
jangan sampai agama yang kita yakini hanya sebatas turunan dari ortu….
————————————————————————
keyakinan diri thd agama berbanding lurus dengan sejauh mana pencarian diri terhadap tuhan,pencarian identitas diri qta. Kenapa aku hidup di dunia,untuk apa aku hidup.
————————————————————————
klo dirimu sekarang mulai menutupi siapa dirimu, mgkn sama artinya pencarian atas identitas dirimu perlu dipertanyakan.
itu yang meninggikan derajat kita diatas tingkat keberadab manusia yang sesuai standar pemikiran Ronsen.
unstereo
Desember 15, 2007 at 3:43 pm
TOLAK DAN LAWAN BUDAYA KAPITALIS..!!!
TOLAK DAN LAWAN BUDAYA KAPITALIS..!!!
TOLAK DAN LAWAN BUDAYA KAPITALIS..!!!
TOLAK DAN LAWAN BUDAYA KAPITALIS..!!!
TERMASUK MEDIA MASSA, FILM, SINETRON, DLL..!!!
ANTI KAPITALIS
Desember 16, 2007 at 12:16 am
Guys..emang sekarang kita hidup dijaman reformasi..
kita cuma bisa menghujat atas ketidaknyamanan yg terjadi di Indonesia, tapi pernah ga kita berdoa buat bangsa kita?
Bagai mana bangsa ini mau fight klo semua kata2 yg keluar dari mulut rakyatnya cuma, cacian, hujatan dsb. di LN kenapa mrk jauh lebih maju, karna mrk punya nasionalisme yg tinggi..
Mungkin saya juga termasuk diantaranya yg cuma hanya bisa menghujat, tapi sekarang2 ini saya sedang belajar memberkati B. Indonesia dg doa, kata2 positif dll.
karna tidak ada gunanya klo terus2n menghujat toh tetap tidak ada perubahah…
klo semua mau tau Indonesia masi bisa bertahan sampai sekarang ini, saya percaya itu karna masih ada org2 yg mau berdoa buat Indonesia, walaupun cuma segelintir, tapi dampaknya besar…
Saya cuma bisa mengajak Semua yg baca blog ini untuk merubah paradigmanya, Lakukan sesuatu buat bangsa ini walaupun hal yg paling kecil yaitu berdoa..
Elis
September 5, 2008 at 3:30 pm
ga sengaja mampir ke blog ini, eh ga taunya baca2 sialan kok gue bisa kejerat di blog terkutuk ini.wkwkwkw jadi ngakak deh baca yang posting…ama sebagian komen yang ada, kok cuma bisa kritik2 ga mutu! buang2 waktu anjenggg….
anjing
September 12, 2009 at 3:41 pm