Ronsen’s Blog

memandang dunia (maya) dengan sebelah mata

Sensor Film

with 6 comments

Saya tidak mengerti menapa sampai sekarang negara kita ini masih menerapkan sensor terhadap film Indonesia? Dugaan saya mungkin karena salah satu sifat umum bangsa ini adalah malas. Malas untuk berubah. Apa jadinya kalau kita tidak mau berubah? Pastinya kita akan ketinggalan zaman, kuno.

Film Indonesia butuh sebuah badan rating bukan sensor-sensoran. Misalkan saja sebuah film penuh dengan adegan syur dikagetorikan saja untuk orang dewasa. Ya udah, tinggal filter saja orang-orang yang mau menonton film tersebut. Tidak perlu disensor. Apa orang dewasa tidak boleh menonton film syur? Ah, kemana aja lu? Hari gini belum nonton bokep!

Ok, ada yang komentar kalau Indonesia itu bukan hanya Jakarta jadi perlu diperhatikan mereka yang tinggal di desa-desa sana. Emangnya mereka orang bodoh apa? Apa orang desa tidak mengerti mana yang baik dan jahat?

Informasi di zaman sekarang sulit dibendung termasuk pornografi. Internet adalah terobosan terbesar buat industri mesum ini. Siapa saja, dari segala umur, dapat dengan mengakses konten-konten tersebut. Jadi jangan korbankan film lagi dengan alasan banyak adegan seks dan syurnya. Kita butuh badan yang lebih profesional biar industri film lebih maju.

Written by Ronsen

April 30, 2008 pada 9:09 pm

Ditulis dalam Sampah

Ditandai dengan , ,

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. HEH!!! Ga semudah membalikkan telapak tangan untuk dapat mensensor orang yang mau nonton film syur. Siapapun kalau memang sudah niat, pasti dengan cara apapun dapat nonton.
    Nah sebenernya gw lebih setuju dengan adanya sensor di awal. TApi bukan lembaga sensornya ya.. melainkan film maker. Kalau mereka sudah merasa bahwa bangsa ini sudah boleh menonton hal demikian (karena sudah bergesernya norma-norma sosial) maka ya buatlah. Namun kalau belum, ya jangan lah…
    Ga penting juga urusin ginian lagi cen…
    Ga penting banget menurut gw :P

    Lenny JC

    Mei 6, 2008 at 8:09 pm

  2. Nah sebenernya gw lebih setuju dengan adanya sensor di awal. TApi bukan lembaga sensornya ya.. melainkan film maker. Kalau mereka sudah merasa bahwa bangsa ini sudah boleh menonton hal demikian (karena sudah bergesernya norma-norma sosial) maka ya buatlah. Namun kalau belum, ya jangan lah…
    Ga penting juga urusin ginian lagi cen…
    Ga penting banget menurut gw

    Gak penting gimana? Gua udah ngeluarin duit buat nonton kok malah disensor. kalo pake sistem rating kan cerita lain, kalo memang film dewasa yah anak2 gak boleh masuk. Gua sebagai orang dewasa berhak dong menikmati hiburan karena udah keluar duit.

    Ronsen

    Mei 7, 2008 at 11:37 am

  3. emangnya kau udah dewasa??? Sapa bilang ? Jangan sugesti lho cen *peace*
    Hati-hati, nanti kayak salah satu petinggi negara tetangga yang nuduh2 desi anwar nolongin salah satu tersangkanya mereka lagee *kabor*

    Lenny JC

    Mei 7, 2008 at 5:54 pm

  4. emangnya kau udah dewasa??? Sapa bilang ? Jangan sugesti lho cen *peace*

    terakhir gua cek, kategori dewasa di indonesia di atas 17 tahun.

    Hati-hati, nanti kayak salah satu petinggi negara tetangga yang nuduh2 desi anwar nolongin salah satu tersangkanya mereka lagee *kabor*

    ini komentar mo kemana?

    Ronsen

    Mei 7, 2008 at 6:16 pm

  5. wah aq setuju banget tooh, aq pikir negara kita cuma pura-pura alim

    goes nik

    Januari 9, 2009 at 6:19 pm

  6. wah.. Banyak yang komentar juga neh…
    Haloo semua…

    Saya setubuh bro… Ngapain yak ada sensor2an,.,.. cari duit aja tuh LSF di indonesia… Sekarang dah banyak bajakan… jadi ga ada gunanya lagi tuh lembaga sensor… Harusnya yang dicekal itu pembajakan yang meraja lela saat ini… Fiuh.. negeriku kenapa seperti ini…

    Nobo

    Januari 10, 2009 at 2:41 am


Tinggalkan Balasan